SEDIH, Kisah Petugas Mandikan Jenazah Corona Dijauhi Istri & Anak-anak



Amri menceritakan, pertama kali memandikan jenazah pasien positif Corona saat sedang piket.

Saat itu, ada satu pasien positif Corona menghembuskan nafas terakhirnya.

Mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa menjadi petugas memandikan jenazah atau pemulasaran di sebuah rumah sakit punya tugas berat.

Terlebih jika jenazah yang dimandikan adalah pasien positif Corona atau pasien dalam pengawasan.

Namun tugas negara tersebut tetap diemban dengan penuh tanggungjawab.

Seperti apa kisah para pemulasaran ini di Lampung?

Salah satu petugas yang memandikan jenazah pasien positif Corona adalah Amri Tua.

Ia merupakan anggota tim forensik Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM).

Sudah 10 tahun, ia memandikan jenazah di RSUDAM.
Namun memandikan jenazah pasien Corona, merupakan pengalaman pertamanya.

Namun tugas itu tetap ia emban dengan penuh tanggungjawab.

Amri menceritakan, pertama kali memandikan jenazah pasien positif Corona saat sedang piket.

Saat itu, ada satu pasien positif Corona menghembuskan nafas terakhirnya.

Sebagai personel yang sedang tugas hari itu, ia pun memandikan jenazah tersebut.

Proses pemandiannya sesuai protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerntah.

"Saya mengenakan alat pelindung diri lengkap. Usai dimandikan jasad disemprot disinfektan. Lalu dibalut plastik bening dan disemprot lagi, setelah itu dikafani dan semprot lagi jadi memang sedikit rumit dengan jasad biasa," ceritanya, Minggu (12/4/2020).

Setelah jasad dimandikan, langsung diantar ambulans menuju pemakamannya.

Setelah selesai proses pemandian tersebut, dirinya pun langsung membersihkan diri di RSUDAM sehingga benar-benar steril saat pulang ke rumah.

Namun saat pulang ke rumah, sang istri justru ketakutan dan khawatir.

Karena itu, memintanya untuk menjaga jarak dahulu, terutama dengan anak-anak mereka.

"Jadi saya pulang ke rumah masuk lewat pintu belakang. Istri saya bilang jangan dulu dekat-dekat anak. Selama 10 tahun saya memandikan jenazah, baru kali ini istri saya takut dan khawatir begitu," ceritanya.

Karena sang istri khawatir, maka ia mensetujui permintaannya

Amri mengatakan, sebelum kebagian jatah memandikan jenazah pasien Corona, sang istri memang telah melarang dirinya untuk melakukan itu.

Namun, karena hal tersebut merupakan tugas negara, maka tetap ia jalankan dengan penuh tanggungjawab.

Pengalaman serupa dialami petugas pemulasaran lainnya, Stadi Prihatno.

Menurutnya, sejak ia memandikan jenazah pasien Corona, istri dan kedua anaknya memilih untuk sementara tinggal bersama orangtuanya.

"Ya wajar saja, mungkin istri saya waspada. Jadi saya juga gak melarang mereka pulang ke rumah orangtua," kata Prihatno.

Alhasil, sudah satu minggu ini Prihatno ditinggal oleh anak dan istrinya.

"Malahan anak saya yang gede ngomong gak mau dekat-dekat sama bapaknya takut kena Corona," terangnya.

Prihatno berharap pandemi Corona segera berlalu.

Sehingga ia bisa kumpul kembali bersama keluarganya.

"Semoga cepat berlalu. Kalau saya dapat jatah mandiin jasad Covid lagi, bisa gak pulang-pulang istri saya," tutur dia. (Tribunlampung.co.id/muhammad joviter)

sumber:

0 Response to "SEDIH, Kisah Petugas Mandikan Jenazah Corona Dijauhi Istri & Anak-anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel